Senin, 30 November 2009

Kreasi Roket Gula dan KNO3

Roket Gula dan KNO3
by Silur

Awalnya melihat gambar peluncuran roket LAPAN tiba-tiba muncul ketertarikan saya terhadap roket. Muncullah ide iseng untuk coba-coba buat roket amatir. Selama ini, roket amatir yang pernah saya buat dan tau mekanisme terbangnya cuman roket air. Usia segini masa bisanya cuman bikin roket air? sedangkan orang-orang bule sana roket air sudah jadi mainan anak-anak SD. Dari situ mulai muncul ide bikin roket yang lebih kerenan dikit.

Iseng pertama saya nyoba buat roket alkohol. Tidak perlu susah-susah bikinnya, hanya butuh botol air minum besar, alkohol murni dan pemantik api. Sebelum diluncurkan, tutup botolnya harus dilubangi, sebesar paku kecil cukup lah. Kemudian masukkan sedikit alkohol ke botolnya, kira-kira 1/2 sendok makan. Setelah itu ditutup. Beri api di lubang tutup botolnya dan wuzzzz, botol air minumnya benar-benar melesat. Tapi sayang, masih belum memuaskan. Jarak terbangnya ga terlalu jauh dan susah dibuat lebih jauh lagi karena hanya mengandalkan gas alkohol dari 1/2 sendok makan tadi. Kalau alkoholnya ditambah, bukannya jadi tambah jauh, malah botolnya jd kebakar.

Tidak puas dengan roket alkohol, saya mulai mencari keisengan yang lain. Ahirnya berkat bantuan google dan info dari teman sejurusan muncullah rencana bikin roket amatir berbahan bakar padat dari gula dan KNO3. Roket ini jika benar-benar serius dibuatnya bisa terbang sampai beberapa kilo meter. Sudah pernah lihat film October Sky? Buktinya bisa dilihat di film itu (propelan jenis lain sih). Tapi karena tabung roket yang saya rencanakan bahannya dari pvc (paralon), terbang 200 meter saja sudah cukup. Kenapa dari pvc? Karena cuman dari bahan itu yang sepertinya paling mungkin dan murah. Coba kalau dari logam atau fiber, mahal kan.

Untuk rencana pembuatan, saya dan teman yang ikut iseng membagi beberapa tahap cara pembuatan sebagai berikut:

1. Pembuatan propelan (bahan bakar roket)
2. Pemilihan tabung roket
3. Pembuatan nozzle & fin
4. Uji Igniter
5. Pembuatan Launcher
6. Launching.

Saat ini yang sedang dilakukan masih tahap pertama dan kedua. Hambatan untuk tahap pertama ternyata susah membeli KNO3 di Bandung. Setelah berkeliliing di toko kimia sekitar Kosambi dan JL Gardujati, ga ada satupun yang jual KNO3. Katanya setelah bom bali mereka jadi ga berani lagi jual. Apakah memang barang itu dilarang saya juga kurang tau. Berbeda di Jakarta, ternyata KNO3 bisa juga dibeli. 1 Kg 40 rb. Sayangnya teman saya lupa lagi belinya di toko apa. Untuk gula, sekarang sedang dicoba dari serbuk glukosa. Glukosa bisa dibeli di toko kimia.

Kesimpulan:

Roket alkohol jarak tempuhnya ga terlalu jauh, sekitar 40 meteran lebih, cocoknya buat iseng-isengan. Misalnya untuk main tembak-tembakan. Selain itu berbahaya juga, harus berhati-hati pas nyalain pemantiknya, bisa-bisa gas alkoholnyanya nyembur ke tangan. Untuk roket amatir murah yang lebih baik jarak tempuhnya, bisa dicoba menggunakan propelan gula + KN03. Semoga saja nanti roketnya bener-bener bisa terbang.

Sabtu, 21 November 2009

UB RAIH JUARA KOMPETISI "ROKET AIR" 2009

Friday, 13 November 2009

Tim Roket Otoman dari Jurusan Teknik Mesin Universitas Brawijaya (UB), Kota Malang, Jawa Timur, menjuarai ajang "Kontes Roket Air Indonesia" (KRAI) 2009 yang diikuti 17 universitas di Indonesia.

Malang 13/11 (Antara/FINROLL News) - Tim Roket Otoman dari Jurusan Teknik Mesin Universitas Brawijaya (UB), Kota Malang, Jawa Timur, menjuarai ajang "Kontes Roket Air Indonesia" (KRAI) 2009 yang diikuti 17 universitas di Indonesia.

Ketua Panitia KRAI 2009, Amrizal, Jumat, menjelaskan, untuk posisi kedua diraih Tim Roket ARC dari Universitas Indonesia (UI) Jakarta, sedangkan posisi ketiga, diraih Tim Roket Nakula dari Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta.

Selain itu, Tim UB juga merebut posisi pertama untuk kategori "Roket Otoman Vertikal". Sedangkan kategori "Best Launcher" dan Tembak Sasaran diraih Tim Roket Nakula dari UGM.

Dikatakannya, masing-masing pemenang berhak memperoleh sejumlah hadiah, seperti Tim Roket Otoman yang memperoleh piala bergilir Menristek RI dan uang pembinaan sejumlah Rp4.500.000,00.

Sementara juara kedua dan ketiga, masing-masing mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp2.500.000,00 dan Rp1.500.000,00. Selain itu juara pada tiap-tiap kategori mendapatkan hadiah masing-masing sebesar Rp500.000,00.

Amrizal berharap, usai digelar kompetisi ini akan muncul teknologi terbaru di bidang teknologi roket,

"Kami berharap dengan kompetisi ini, Indonesia mempunyai teknologi terbaru dalam peluncuran roket, sehingga sangat berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan Indonsesia," katanya.

Kompetisi digelar hanya sehari, yakni pada Rabu (11/11), diikuti sebanyak 23 tim. Sedangkan, kelas yang dilombakan meliputi kelas tembak sasaran dengan pola melewati rintangan berupa silinder dan kelas vertikal yang melewati rintangan berupa "net" (jaring).

"Dari masing-masing kelas, yang kami nilai adalah ketepatan dalam meluncurkan roket ke sasaran yang berdiameter 1 hingga 4 meter," katanya.

Sementara itu, juara pada tahun ini hanya memperoleh piala bergilir dari Menristek RI. Sedangkan tahun sebelumnya, Mendiknas turut memberikan piala bergilir.

"Berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini hanya memperebutkan Piala Menristek. Sementara tahun sebelumnya, Mendiknas turut memberikan," katanya.***3***(T.PSO-129) (T

Roket Permen

Roket Berbahan Bakar Permen, Mengapa Tidak?

Liputan6.com, Hatfield: Mengunyah permen atau gula-gula memang sebuah keasyikan tersendiri, terutama bagi anak-anak. Hampir semua bocah menyukainya. Namun tanpa disangka, kini gula-gula mampu menjadi bahan bakar roket. Adalah para ilmuwan dari Universitas Hertfordshire, Inggris, yang belum lama ini menemukannya.

Penemuan ini berawal pada 2005, saat universitas tersebut memulai program roket hingga akhirnya roket berbahan bakar gula-gula berhasil diciptakan. Roket ini memiliki kecepatan hingga 1.200 mil per jam yang mampu ditempuhnya hanya dalam tempo tiga detik.

Walau masih berbentuk penemuan awal, roket ini telah menarik perhatian banyak kalangan. Buktinya, roket terpanjang yang berukuran empat meter sempat tampil dalam Majalah The Times pada akhir Agustus lalu. Tidak hanya itu, roket berbahan bakar gula-gula ini juga pernah terbang setinggi 8.000 kaki atau setara dengan 2,4 kilometer di langit Skotlandia pada ajang International Rocket Week.

"Kami tidak hendak menyarankan agar perusahaan pembuat jet dan roket mulai berpikir untuk menggunakan gula-gula sebagai bahan bakar roket mereka. Tapi, mereka bisa memikirkan bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan," kata Ray Wilkinson pengajar di Universitas Hertfordshire, seperti dikutip situs Sciencedaily.com.(ANS)

liputan Uji Coba Roket

Uji Coba Roket ala Siswa SMP

Liputan6.com, Jakarta: Korea Utara diprotes karena menguji coba peluru kendali yang bisa menjangkau Alaska, Amerika Serikat, dalam waktu kurang dari satu menit. Israel pun dikecam karena roket Jericho-nya menewaskan puluhan warga Palestina. Tapi di Jakarta, roket diperlombakan pada Sabtu (8/7).

Namun, roket yang dipertandingkan di Jakarta bukan berhulu ledak yang bisa merenggut nyawa. Melainkan berbahan sederhana seperti botol plastik, air, dan pompa. Pesertanya pun murid-murid sekolah menengah pertama dari lima kota yakni Denpasar, Surabaya, Malang, Semarang, dan Jakarta. Meski terkesan sederhana, lomba ini akan dipertandingkan di tingkat Asia Pasifik pada September mendatang.

Agar roket air dapat meluncur jauh, dibutuhkan ketepatan mengukur banyaknya air, tekanan udara, dan tentu saja kecepatan dan arah angin. Sebelum perlombaan, para peserta mendapat pelatihan dari Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan).(YAN/Erlangga Wisnuaji dan Prihandoyo)

Lomba Roket Air di Jogja

Pelajar SMP Merakit Roket Air

Liputan6.com, Bantul: Para pelajar sekolah menengah pertama dari berbagai daerah mengikuti lomba merakit roket air, di Lapangan Tri Renggo, Bantul, Yogyakarta. Bermodalkan botol air mineral bekas dan potongan plastik, mereka membuat dan meluncurkan roket buatannya.

Sebelum membuat roket, para pelajar terlebih dahulu diberikan dasar teori dan pengenalan tentang roket. Ternyata proses pembuatan roket tidak terlalu sulit. Cukup sediakan dua botol air mineral yang akan digunakan sebagai batang roket sekaligus tempat air. Sedangkan lembaran plastik digunakan untuk membuat sirip roket.

Usai dirakit, roket diisi air dan diberi udara dengan pompa angin. Roket pun siap meluncur. Agar bisa meluncur dengan jauh, para pelajar harus memperhitungkan dengan tepat rangkaian roket tersebut.

Kegiatan yang digelar Ahad (9/11) ini, diselenggarakan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa bekerja sama dengan Universitas Sebelas Maret. Rencananya, peserta yang memiliki nilai tertinggi diikutkan dalam kompetisi internasional roket air di Hanoi, Vietnam, tahun depan.(OMI/Ferry Aditri)

Pusat Peragaan Iptek di TMII

Roket Air, Kesederhanaan Ilmu Fisika
Indah Dian Novita dan Agus Prijatno

Liputan6.com, Jakarta: Bila berkunjung ke Pusat Peragaan Iptek di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, kita akan melihat perangkat water rocket atau roket air. Roket air adalah salah satu wahana yang menjadi favorit para pengunjung. Setiap hari ada pertunjukan pembuatan sekaligus peluncuran roket air untuk para pengunjung yang rata-rata murid sekolah dasar dan menengah.

Roket air merupakan bentuk praktik dari pelajaran atau teori fisika yang biasa dipelajari di sekolah. Khususnya mengenai tekanan dan gaya dorong yang disebabkan udara. Cara membuatnya sangat sederhana, hanya dari dua buah botol plastik bekas minuman yang diberi sayap di bagian bawahnya sehingga menyerupai bentuk roket.

Kemudian botol diisi air. Setelah siap, roket dihubungkan dengan pompa udara. Dengan tekanan udara dari pompa roket pun meluncur. Tak hanya menjadi wahana praktik, roket air ternyata sudah dikenal di kalangan komunitas pecinta ilmu pengetahuan.

Roket air hanya satu dari 300 wahana di Pusat Peragaan Iptek TMII yang bisa dinikmati. Semua dirancang agar ilmu pengetahuan yang terkesan rumit menjadi mudah dipelajari dengan cara yang lebih menyenangkan.

Sementara itu di Yogyakarta ada suatu tempat yang disebut Taman Pintar. Kenapa disebut begitu?. Ternyata di taman itu memang banyak permainan yang dijamin bisa membuat anak lebih pintar. Ada yang namanya dinding berdendang atau permainan alat katrol.

Cukup hanya mengeluarkan uang Rp 5.000 , Anda dan buah hati tercinta akan dimanjakan dengan beragam alat peraga mulai dari antariksa, fisika hingga budaya. (ADO)

Senin, 16 November 2009

Selasa, 10 November 2009

Cara Membuat Roket Air (water rocket)

Roket air relatif aman dan biaya pembuatannya juga tidak mahal. Dalam membuat roket air ini kita dapat mempelajari dasar - dasar dari gaya dan respon roket air terhadap gaya - gaya liar.



Dalam merancang roket air kita akan dihadapkan pada empat subjek yaitu gaya berat, gaya dorong, sistem aerodinamis dan daya angkat.



Roket air bekerja dengan bantuan air dan tekanan udara sehingga ia bisa terlontar keudara. Pertama - tama roket air yang terbuat dari botol ini di isi air kira - kira 40% dari volumenya.

Kemudian botol di pasang pada peluncur roket air, Udara kemudian di pompakan ke botol roket sehingga tekanan naik. Gaya dorong akan didapat saat air mulai keluar dari botol roket air dengan cara menarik tutup nozzel (gambar 2).

Persis seperti roket sungguhan, roket air ini juga di pengaruhi oleh faktor -faktor external seperti pengaruh angin dan berat dari roket air itu sendiri. Untuk mendapatkan jarak lontar yang jauh perhitungan sistem aerodinamisnya perlu di perhatikan.

Cara membuat roket air ini secara detail untuk kalkulasi perhitungan matematis silahkan kunjugi situs ohiou.

Minggu, 08 November 2009

Siswa SMP Bantul Juara Lomba Roket Air

Lomba Roket Air di Yogyakarta

Jumat, 30 Oktober 2009

Siswa SMP Bantul Juara Lomba Roket Air

Lomba roket air/ilustrasi. (ANTARA/Regina Safri)
Bantul (ANTARA News) - Siswa SMP Negeri 1 Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Ardi Ahmad Sarif meraih juara pertama lomba roket air nasional tingkat SMP di lapangan Trirenggo, Bantul, Kamis.

"Ardi meraih juara pertama setelah memperoleh nilai tertinggi 180 dari 50 peserta," kata Ketua Panitia Lomba Roket Air Nasional Trisaktiyana di Bantul.

Ia mengatakan juara pertama mendapatkan piala dan uang pembinaan sebesar Rp4,5 juta, dan berhak mengikuti lomba roket air tingkat internasional di Bangkok, Thailand pada 22 Januari 2010.

Juara kedua diraih Aditya Fernando siswa SMP Saint Yusuf, Lahat, Palembang, Sumatra Selatan (Sumsel), dan juara ketiga Ardita Wiratama dari SMP Negeri 5 Yogyakarta yang mengantongi nilai 120.

"Juara kedua mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp3,5 juta, juara ketiga Rp2 juta. Uang pembinaan ini berasal dari PP Iptek dan Pemerintah Kabupaten Bantul," katanya.

Sedangkan juara harapan I hingga harapan III masing-masing diraih Ali Setiawan dari MTs Daarul Taqwa Semarang dengan nilai 120, Anif Nur Mustaqim siswa SMP Muhammadiyah Imogiri Bantul yang memperoleh nilai 100, dan David Akhir Novan dari MTs Bantul dengan nilai 100.

Trisaktiyana mengatakan lomba ini bertujuan untuk lebih mengenalkan roket air di kalangan siswa yang berbakat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), terutama yang berkaitan dengan pelajaran matematika serta fisika.

"Sehingga nantinya diharapkan dapat melahirkan profesional muda terutama di bidang teknologi kedirgantaraan," katanya.

Menurut dia, pada penyelenggaraan lomba roket air tingkat nasional 2010 yang akan diselenggarakan di Palembang diharapkan jumlah peserta meningkat.

Kepala Bagian Publikasi dan Promosi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Rozalisa mengatakan juara pertama pada lomba roket air tahun ini berhak mengikuti lomba yang sama tingkat internasional di Bangkok, Thailand, 22 Januari 2010.

Namun, kata dia, yang bersangkutan terlebih dahulu akan memperoleh pembekalan dan pembinaan. "Pembekalan diberikan selama dua hari menjelang keberangkatan ke lomba tingkat internasional agar persiapannya lebih matang," katanya.

Rozalisa mengatakan pihaknya merasa bangga dengan prestasi siswa-siswi SMP yang mengikuti lomba roket air tingkat nasional ini, terutama peserta dari Kabupaten Bantul, DIY yang untuk kedua kalinya meraih juara pertama.(*)

LAPAN mengenalkan Roket sejak dini

Belajar Membuat Roket Air
Jakarta, 30-Jul-2009

Lewat berbagai cara, Lapan giat bekerja sama dengan berbagai pihak untuk melakukan pengenalan roket sejak dini. Pengenalan yang diberikan kepada siswa SD hingga SMA ini dilakukan guna meningkatkan rasa cinta terhadap kedirgantaraan. Nah, salah satu kegiatan yang telah banyak dilakukan adalah dengan belajar membuat roket air.

Jika mendengar nama roket, dalam benak kita pasti terbayang sebuah pesawat silinder dengan semburan api yang dahsyat melesat ke angkasa. Tapi, pernahkah kamu membayangkan sebuah roket dengan semburan air sebagai penggeraknya?

Pada dasarnya, sebuah roket dari jenis apa pun memiliki cara kerja yang sama. Yakni, memanfaatkan gaya aksi-reaksi. Gaya ini timbul akibat pembakaran bahan bakar yang dibawa roket. Bahan bakar yang dibakar menciptakan gas panas yang terus mengembang sehingga menghasilkan tekanan ke bawah dan mendorong roket untuk meluncur.

Pada roket air, tenaga pendorong timbul akibat desakan udara yang dipompakan ke dalam roket berisi air. Untuk lebih jelasnya, ikuti cara membuat roket air paling sederhana di bawah ini!

Alat dan Bahan

Model roket air paling sederhana dapat dibuat menggunakan alat dan bahan yang mudah didapat di lingkungan sekitar kita. Bisa juga dengan memakai barang-barang bekas. Berikut beberapa alat yang diperlukan.

- botol plastik bekas ukuran 1.500 mililiter - pompa angin - sumbat karet penutup botol - pentil ban sepeda - pemberat (misalnya, dari sampah kertas-kertas bekas) - gabus - kertas karton - lem, gunting, perekat

Cara Pembuatan

- Isilah 1/3 bagian botol dengan air. - Buat lubang pada sumbat karet dan masukkan pentil sepeda pada lubang tersebut. - Masukkan sumbat dengan pentil pada leher botol. Usahakan agar tidak ada udara yang bocor. - Buat sirip dari gabus sebagai penyeimbang saat meluncur di bagian belakang roket. - Buat pula moncong roket dari kertas karton berbentuk kerucut dan beri pemberat di dalamnya. - Pompalah botol hingga tekanan udara akan mendesak air keluar. Saat memompa, selang pompa harus terpasang erat pada pentil. Tempatkan botol sejauh mungkin dari pemompa. Dasar botol (yang menjadi moncong roket) pun harus diarahkan ke atas. Dengan begitu, botol plastik akan dapat melesat ke udara.

LOMBA MERAKIT ROKET AIR DIIKUTI SISWA SMP BANTUL

Lomba Roket Air tingkat SMP
http://farm4.static.flickr.com/3170/2977964401_88a91c23b1.jpg
Oct 28, 2009 at 07:00 AM

SEBANYAK 85 siswa SMP se-Bantul mengikuti Lomba Roket Air tingkat Kabupaten Bantul, di Lapangan Trirenggo (26/10/2009). Ketua Pelaksana Lomba Roket Air, Tri Saktiana mengatakan, siswa yang mengikuti lomba roket air tersebut akan diseleksi hingga mencapai 62 siswa untuk diikutkan dalam lomba roket air tingkat regional DIY. Selanjutnya akan dipilih siswa yang lolos ke lomba tingkat nasional.

Lomba tingkat regional DIY dilaksanakan 28 Oktober dan Kejuaraan tingkat nasional pada 29 Oktober, di lokasi yang sama, yaitu lapangan Trirenggo-Bantul. Juara pertama akan diikutsertakan dalam lomba roket air tingkat Asia Pasifik yang akan berlangsung di Thailand, pada Februari tahun depan.

Lomba ini adalah untuk kedua kalinya, diselenggarakan oleh Pusat Peraga Iptek Kementrian Riset (PPIptek) dan Teknologi dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul.

Staf PPIptek Kementrian Riset dan Teknologi, Yuliasih Dwi Rahayuningsih menjelaskan bahwa pelaksanaan lomba roket air tingkat nasional tersebut diikuti 46 peserta. Jumlah peserta itu,merupakan hasil seleksi dari tujuh kota yang mewakili regionalnya.

Tujuh kota yang menyelenggarakan lomba roket air sebelum mengikuti puncaknya di Bantul adalah Palembang (Sumsel), Pare- Pare (Sulsel), Semarang (Jateng), Jakarta, Solo Raya (Jateng), Yogyakarta dan Bantul.

Bantul dipilih sebagai penyelenggara lomba roket air karena Kota Geplak dinilai komitmen dan peduli terhadap dunia pendidikan, terutama dalam bidang teknologi kedirgantaraan. Hal ini dapat dilihat dengan dukungan yang positif pemkab Bantul terhadap pengenalan dunia kedirgantaraan kepada para pelajar.

Begitu pula dengan percobaan peluncuran roket dari LAPAN yang selalu dilaksanakan di Pantai Pandansimo, Bantul, yang rencananya berlangsung di Bantul pada Rabu (28/10/2009),” Kabag Publikasi dan Promosi LAPAN Rosaliza menjelaskan.***

(dari berbagai sumber)

SMPN 1 Kasihan Juarai Kompetisi Roket Air Nasional

Lomba Roket Air Nasional

Kamis, 29 Oktober 2009 | 18:39 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Eny Prihtiyani

BANTUL, KOMPAS.com - Meski dikenal sebagai kabupaten yang masih ndeso (desa), Bantul memiliki potensi sumber daya manusia sangat memadai, khususnya di bidang kedirgantaraan.

Hal tersebut dibuktikan dengan kesuksesan Ardi Ahmad Syarif, siswa SMP Negeri 1 Kasihan, yang berhasil menyabet juara I Kompetisi Roket Air Tingkat Nasional. Pada kompetisi yang berlangsung di Lapangan Trirenggo Bantul, Kamis (29/10), itu Ardi berhasil mengalahkan 49 peserta lainnya dari seluruh Indonesia.

Ada 10 siswa Bantul yang berhasil lolos ke kompetisi nasional tersebut. Juara II diraih oleh Aditya Fernando dari SMP Santo Yosef Lahat, Sumatera Selatan, sedangkan juara III diraih Ardika Wiratama dari SMP Negeri 5 Yogyakarta.

Atas kesuksesannya itu Ardi berhak memperoleh fellowship dari JAXA (Japan Aerospace Exploration Agency) untuk mengikuti kompetisi roket air internasional tingkat Asia Pasifik yang akan berlangsung di Bangkok, Thailand, pada Januari 2010 mendatang.

Kompetisi tersebut merupakan bagian dari upaya Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP Iptek) untuk memfasilitasi pelajar-pelajar yang berbakat di bidang iptek, khususnya kedirgantaraan. Untuk membuat roket air itu, para siswa disediakan dua botol air mineral ukuran 1 liter, kertas koran, infrabot, dan isolatif.

"Mengingat roket air yang digunakan tidak bersifat explosif sebagaimana roket-roket berbahan bakar propelen yang menimbulkan percikan api, maka masyarakat pun bebas untuk menontonnya," kata Kepala Pengawasan Internal PP Iptek Yuliarsih.

Dalam sambutan pembukaan, Sekretaris Daerah Kabupaten Bantul Gendut Sudarto mengatakan, pihaknya memiliki komitmen kuat untuk mengembangkan ilmu kedirgantaraan. Kompetisi tersebut sengaja diadakan di Bantul sebagai upaya memperluas wawasan siswa terhadap ilmu pengetahuan.

"Diharapkan siswa bisa lebih mencintai ilmu kedirgantaraan dan mampu menerapkan ilmu fisika yang telah dipelajari di sekolah," katanya.

Komitmen itu juga dibuktikan dengan keputusan Bantul untuk memfasilitasi kompetisi roket tingkat mahasiswa selama dua tahun berturut-turut.

Minggu, 01 November 2009

sejarah roket

Sejarah Roket

Roket sudah terkenal sejak zaman masa Tiongkok kuno dulu sebagai mercon untuk tujuan seremonial dan senjata.Belakangan mercon yang dikembangkan menjadi roket dijadikan sarana untuk membawa muatan dengan tujuan perang maupun damai.Bangsa Cina menciptakan mercon yang mampu melesat ke udara hingga membentuk kembang api raksasa di angkasa.Mercon menjadi bagian dari sarana seremonial keagamaan bangsa tersebut sejak zaman dahulu.

Pada masa perang,mercon berubah fungsi menjadi sarana peluncur panah api.Senjata ini antara lain digunakan tentara China atau Chin Tartar untuk menghalau serangan bangsa Mongolia yang dipimpin Kai Feng Fu pada tahun 1232.

Lewat jalur pedagangan,pengetahuan tentang pembuatan mercon itu sampai ke India.Ketika negeri gajah itu dijajah Inggris,senjata inipun berpindah tangan.Ditangan bangsa barat mercon dikembangkan jadi roket melalui serangkaian penelitian selama lima abad yaitu sejak abad ke13 sampai ke-18.

http://4.bp.blogspot.com/_LuJdhNOv-Nk/SHsK2zWbGlI/AAAAAAAAABk/ItVnvbAtloA/s320/hal11.jpg

Nama-nama ilmuan barat yang mempunyai andil cukup nyata dalam perkembangan roket diantaranya Robert Anderson.Ilmuan Inggris ini pada tahun 1696 membuat cetakan roket dan campuran bahan bakar Roket disebut propelan dengan kalkulasi yang cermat.Ilmuan Inggris lainnya mengembangkan Roket yang mampu melesat ke angkasa sejauh 274 kilometer lebih.

Di tangan bangsa Jerman,yang dimotori Hermann Oberth dan Wernher von Braun,roket menjadi senjata ampuh sebagai peluru kendali disebut Roket V-2 (Vergelstungswaffe Zwei)yang digunakan pada perang dunia II.Mereka juga merintis pengembangan roket sebagai wahana pembawa muatan.

Pasca-PD II dengan takluknya Jerman dan sekutunya,teknologi peroketan ini diboyong ke Uni Soviet dan Amerika Serikat.Ditangan Konstantin Tsiolkovsky,Uni Soviet kemudian berhasil meluncurkan roket pembawa satelit Sputnik ke orbit di ruang angkasa pada 4 Oktober 1957.

Satelit itu menyerupai bola basket berbobot sekitar 90 kilogram mengorbit bumi dalam waktu 98 menit.Keberadaanya diketahui masyarakat dunia lewat pancaran sinyal radio yang dipasang di wahana tersebut.

Peluncuran ini menandai Tahun Geofisika International yang dimulai 1 Juli 1957 hingga 31 Desember 1958,dengan target yang ditetapkan International Council of Scientifitic bahwa pada tahun itu satelit sudah dapat diluncurkan untuk memetakan bumi.

http://1.bp.blogspot.com/_LuJdhNOv-Nk/SHsEkJorzrI/AAAAAAAAABE/y0rYKjaCcXE/s320/hal12.jpg

Keberhasilan peluncuran satelit untuk pertama kali itu disusul peluncuran roket yang membawa Sputnik II wahana ruang angkasa berawak.wahana yang diluncurkan pada tahun 1961 membawa kosmonot Yuri Gagarin.Tak mau kalah dengan seterunya,Amerika Serikat kemudian menyusul dengan meluncurkan dan mengirim Apollo ke Bulan

Gambar Roket Saturnus V yang membawa pesawat Ruang angkasa Apollo 11,yang mencatat sejarah dengan awaknya bernama Neil Amstrong paling kiri,Michel Collins di tengah dan Edwin Aldrin paling kanan yang menginjakkan kakinya untuk pertama ke Bulan.